Ketika Hati Nurani Tak Lagi Terdengar

Oleh: Sonny Wibisono

Entah apa yang ada di benak Ketua dan sebagian anggota DPR yang tetap menginginkan pembangunan gedung DPR terus dilanjutkan. Penolakan terhadap pembangunan gedung DPR mendapat penolakan keras dari masyarakat luas. Rencana pembangunan gedung dinilai melukai hati rakyat.

Apa alasan para wakil rakyat membangun gedung baru? Gedung Nusantara I tempat mereka berkantor saat ini, dinilai sudah melebihi kapasitas, baik karyawan dan staf, maupun barang dan dokumen, sehingga diperlukan gedung yang baru. Alasan lainnya, meja kerja dan jumlah staf ternyata tidak sebanding dengan luas ruang secara keseluruhan, yang mengakibatkan ruang gerak semakin sempit. Ruang perpustakaan juga dianggap sudah tidak memadai lagi, sehingga perlu ditata ulang kembali.

Gedung dengan anggaran Rp 1,138 triliun itu rencananya akan mulai dibangun pada 22 Juni 2011. Didirikan di atas tanah seluas 157 ribu meter persegi. Gedung baru akan dibangun 36 lantai. Setiap Anggota Dewan akan menempati ruangan seluas sekitar 110 meter persegi dengan harga per meter perseginya Rp 7,2 juta.

Sedemikian mendesaknyakah pembangunan gedung tersebut? Pembangunan gedung baru dinilai belum sedemikian urgennya. Wacana pembangunan gedung baru malah membuat masyarakat semakin antipati terhadap DPR. Mengapa masyarakat sudah demikian antipatinya? Hal ini disebabkan ulah mereka sendiri yang selama ini dinilai hanya mementingkan kepentingan diri mereka sendiri. Sementara kinerja jauh dari memuaskan. Pandangan masyarakat terhadap DPR memang menyedihkan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai survei yang dilakukan. Boleh dikatakan hampir semua tidak ada yang positif untuk DPR.

Lihat saja, mengutip Survei Barometer Korupsi Global tahun 2009, DPR menjadi lembaga dengan potensi korupsi tertinggi di Indonesia dengan angka mencapai 4,4 atau hanya sedikit di bawah angka tertinggi, yaitu 5.

Sedangkan Formappi dalam rilisnya menyebutkan bahwa mayoritas masyarakat di Jakarta belum terwakili oleh anggota DPR periode 2010-2014. Hasil survei ini menunjukkan adanya kesenjangan hubungan antara anggota DPR dan konstituennya. Sebanyak 93 persen responden dari total 564 menyatakan tidak terwakili oleh anggota DPR. Sementara sisanya, ’hanya’ 7 persen, mengaku terwakili.

Bagaimana dengan kinerja? Kinerja anggota DPR saat ini memang jauh dari membanggakan. Kalau boleh dibilang sangat buruk. Survei yang dilakukan Lembaga Peneliti Charta Politik mengungkapkan persepsi masyarakat terhadap kinerja anggota DPR periode ini lebih buruk bila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Walaupun lebih dikenal, performa DPR 2009-2014 dinilai lebih buruk dibanding periode sebelumnya. Setiap tahunnya, DPR menargetkan sejumlah UU harus rampung. RUU ini masuk dalam Prolegnas atau Program Legislasi Nasional, yang merupakan fungsi legislasi dari DPR. Fungsi DPR lainnya ialah fungsi pengawasan dan budgeting. Prolegnas 2010 telah ditetapkan 70 RUU yang terdiri dari 36 RUU inisiatif DPR dan 34 RUU inisiatif Pemerintah. Tapi hingga 2010 berakhir, hanya 8 dari 70 RUU yang berhasil diselesaikan DPR, ditambah 8 RUU kumulatif terbuka. Jadi total 16 RUU yang berhasil diundang-undangkan. Sangat jauh dari target yang ditetapkan. Tak hanya kuantitasnya yang dipermasalahkan. Kualitas undang-undang yang dihasilkan anggota DPR pun dipertanyakan. Terlihat dari sejumlah UU yang diajukan untuk uji materi ke Mahkamah Konstitusi, padahal baru diterapkan.

Tak hanya kinerja yang diragukan, perilaku buruk anggota DPR lainnya meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data yang dikeluarkan KPK, korupsi di DPR itu terutama suap-menyuap, meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2010, suap-menyuap anggota DPR yang diusut oleh KPK mencapai 27 kasus. Jumlah itu meningkat dari 8 kasus pada 2009 dan 5 kasus pada 2008.

Melihat ’prestasi’ yang dihasilkan selama ini, pantas saja publik kecewa. Biaya mahal yang dibiayai oleh rakyat dalam menyelenggarakan pemilu untuk memilih mereka seakan-akan menjadi tidak berarti. Tidak sebanding dengan apa-apa yang telah dihasilkan DPR periode saat ini.

Kita tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan bila DPR tetap bersikukuh untuk membangun gedung baru dengan mengabaikan suara rakyat. Seharusnya, sebagai anggota dewan yang (katanya) mewakili rakyat, lebih memerhatikan kesejahteraan rakyat terlebih dahulu. Apalagi dalam keadaan seperti saat ini, DPR hendaknya lebih dapat meningkatkan kinerjanya. Bila kinerja meningkat dan kebijakan yang dihasilkan pro rakyat, dengan sendirinya masyarakat luas tentu akan memberi apresiasi.

Jakarta, 6 April 2011

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

3 Responses

  1. Sebenarnya bukan hal yang berlebihan apabila negara membangun gedung DPR RI yang representatif. Bagaimana pun, sebuah gedung DPR RI tidak lepas sebagai salah satu simbol kebanggan bagi kita. Apalagi sekarang dengan adanya Staf Ahli pada masing2 Anggota, rasanya kapasitas ruangan sekarang memang jauh dari layak bila dipaksakan untuk bertahan. Kalau mungin diperlukan revisi atas konfigurasi tata ruang dengan meniadakan kolam renang, salon, dll., mungkin ‘iya’, dengan implikasi pemangkasan biaya menjadi lebih kecil, tetapi seyogianya pembangunannya jangan dihalang-halangi apalagi apalagi sampai dihentikan sama sekali.

  2. KEJUJURAN ADALAH MATA UANG YG BERLAKU DIMANA-MANA
    Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, Aku iringkan doa semoga Allah berikan kekuatan IMAN pada orang-orang yang memperjuangkan dan mencintai Negeri ini terbebas dari Korupsi, Dan semoga bapak-bapak yang di KPK setiap saat selalu Connec dengan-Nya karena yang menyisipkan kasih sayang, kebencian, ketakutan, keberanian dll dalam hati manusia, makluk tidak akan bisa memberikan mudhorat dan manfaat kecuali atas ijin-Nya. Amin…

  3. Membangun Satu Simbol Negara Bagus Juga, Tapi alangkah bagusnya bila saat ini uang negara di gunakan untuk infestasi jangka panjang untuk dibuat BUMD, Kantor Bursa Saham Komoditas seperti BEJ. itu jauh lebih menguntungkan dimasa yang akan datang, Jangan lagi Meninggalkan Utang Negara kepada anak cucu kita. Nanti Negara ini bisa Koleps, pecah perang saudara akibat utang negara yang tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*