Agenda Pascapembubaran CGI

Keputusan Pemerintah membubarkan forum CGI (Consultative Group on Indonesia) memperoleh dukungan yang kuat dan luas dari seluruh komponen masyarakat.

Keputusan Pemerintah membubarkan forum CGI (Consultative Group on Indonesia) memperoleh dukungan yang kuat dan luas dari seluruh komponen masyarakat. Persepsi masyarakat, CGI merupakan badan atau forum yang menyebabkan Indonesia tidak independen atau mandiri dalam menetapkan kebijakan ekonominya. Perlu diberikan catatan khusus bahwa CGI bukan suatu badan permanen, tetapi merupakan forum dari para pemberi pinjaman yang lebih bersifat konsultatif, jadi sifatnya informal.

Meskipun CGI merupakan forum yang dipimpin oleh World Bank serta bersifat multilateral, tidak berarti menutup pintu untuk kerja sama bilateral, termasuk dalam soal pinjam-meminjam. Lalu masyarakat menginterpretasikan pembubaran CGI sebagai manifestasi kemandirian dalam bidang ekonomi, bahkan juga politik.

Bahkan lebih jauh masyarakat mengartikan dengan pembubaran CGI, kita tidak perlu lagi meminjam dari luar negeri, meskipun sifatnya bilateral. Opini publik yang kental itu agak sejalan dengan pendapat Presiden SBY yang dalam pidato awal tahun 2007 menyatakan bahwa kemandirian yang dia maksudkan, janganlah ekonomi kita disandera oleh utang yang besar dan kebijakan serta pembangunan ekonomi dituntun atau didikte oleh pihak lain.

Setelah Presiden SBY menyatakan pembubaran Forum CGI, Menko Perekonomian dan Menkeu memberikan keterangan pers yang mengisyaratkan pesan bahwa pembubaran CGI tidak berarti menutup pintu terhadap kemungkinan pinjaman luar negeri secara bilateral, seperti dengan Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan Jepang.

Saya memahami sepenuhnya pandangan Menko Perekonomian dan Menkeu yang harus bersifat konservatif dan berpandangan jauh ke depan. Perkembangan ekonomi dunia memang sangat tidak menentu dan Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari ketidakpastian itu.

Bayangkan, jika suatu saat AS melakukan ofensif militer meskipun terbatas terhadap Iran dengan berbagai dalih. Harga minyak dunia segera akan meroket dan sulit dibayangkan pengaruhnya terhadap ekonomi kita. Contoh lain yang tentu tidak kita harapkan, jika kita menghadapi bencana alam yang maha dahsyat, tentu memerlukan dana yang sangat besar.

Kita tidak bisa terus-menerus menggantungkan diri kepada kebaikan hati masyarakat dunia, seperti bantuan yang deras mengalir sewaktu bencana tsunami. Pandangan Menko Perekonomian dan Menkeu tidak bertolak-belakang dengan Presiden SBY, karena Presiden SBY pun tidak pernah membuat pernyataan yang menutup sama sekali pintu kerja sama bilateral, termasuk dalam bidang pinjaman pembangunan resmi.

Perlu diklarifikasi

Dalam APBN 2007 masih tercantum penarikan pinjaman luar negeri yang berupa pinjaman program dan pinjaman proyek. Pinjaman program dan pinjaman proyek berjumlah hampir Rp36 triliun atau hampir US$4 miliar. Yang perlu diklarifikasikan, apakah pinjaman luar negeri ini merupakan pinjaman baru atau sekadar pencairan dari pinjaman luar negeri yang telah merupakan komitmen, tetapi belum ditarik (undisbursed loan).

Karena judulnya penarikan pinjaman luar negeri, maka lebih tepat diartikan sebagai penarikan pinjaman baru. Jadi, bukan sekadar pencairan dari undisbursed loan. Jikal di tangan kita masih terdapat banyak pinjaman luar negeri yang sudah komit dan kita sudah membayar commitment fee tetapi belum dicairkan, maka seharusnya dana-dana pinjaman ini yang dicairkan dulu ketimbang membuat pinjaman baru.

Namun, undisbursed loan jumlahnya juga terbatas, mungkin hanya cukup untuk menutup kebutuhan anggaran dalam dua sampai tiga tahun. Lalu apakah kita akan konsekuen tidak mengadakan pinjaman luar negeri baru agar pinjaman luar negeri kita terus dapat diturunkan secara absolut bukan sekedar relatif, sebagai perbandingan terhadap PDB?

Konsekuensinya adalah kita harus habis-habisan meningkatkan pendapatan dalam negeri yang sumber utamanya berasal dari pajak agar defisit anggaran belanja dapat ditekan dan dalam jangka waktu dua hingga tiga tahun mendatang menjadi nol. Selain itu untuk menjaga cadangan devisa, maka ekspor harus all out dan hal ini sangat tergantung dari daya saing komunitas ekspor serta penetrasi pasar global yang harus semakin agresif.

Lalu, aliran modal ke dalam negeri dalam bentuk real investment atau foreign direct investment harus juga all out di tengah kelambanan arus investasi luar negeri yang masuk ke Indonesia. Indonesia, dari berbagai survei, menunjukkan semakin tertinggal dalam persaingan sebagai negara tujuan investasi luar negeri. Tentu upaya-upaya di atas tidak menutup pinjaman dalam negeri.

Alternatif pinjaman

Ada dua alternatif pinjaman luar negeri pemerintah jika masih diperlukan. Bisa dalam bentuk obligasi global seperti yang dilakukan sekarang atau dalam bentuk official development loan. Term and condition dari obligasi global yang dijual Pemerintah ke pasar luar negeri sangat tergantung dari kepercayaan pasar internasional terhadap kesehatan dan ketahanan ekonomi Indonesia, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam kaitan ini, sangat penting dijaga kesehatan fundamental ekonomi kita. Alternatif pembiayaan luar negeri yang lain adalah dalam bentuk pinjaman resmi, di mana sifatnya dari pemerintah kepada pemerintah, dalam bentuk pinjaman bilateral. Term and condition-nya juga sangat dipengaruhi oleh kepercayaan dunia internasional terhadap kondisi ekonomi dan stabilitas politik Indonesia.

Kerja sama dalam pembangunan infrastruktur, misalnya untuk proyek listrik dengan pihak swasta di luar negeri, tentu tetap menjadi salah satu pilihan pembiayaan.

Alhasil, pekerjaan rumah kita sangat besar dan berat. Belum lagi upaya pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan pekerjaan sebesar-besarnya dalam waktu secepatnya.

Untuk itu kita jangan buang-buang energi untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu fundamental, seperti masalah PP Nomor 37/ 2006 yang hiruk-pikuknya bagaikan kapal akan karam. Demikian pula, kita perlu terus melangkah ke depan seraya mengambil pelajaran dari masa lalu.

Sumber : Oleh: Mar ie Muhammad
Bisnis Indonesia – Senin, 5 Februari 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*